"Sedang apa kau di situ, nak? Kenapa kau tdk pulang?" sapa seorang kakek, mendekati Alisha dan menatapnya dgn penuh rasa iba.
"Aku...sedih...!" jawab Alisha terisak-isak.
"Sedih kenapa?"
Alisha menunduk, tdk bisa menjawab.
"Ya, sudah. Sekarang ayo pulang,biar kakek antar. Jangan di sini terus, kau bisa sakit. Orang tuamu pasti menunggu." ajak kakek itu. Masih dgn tatapan sedih sekaligus heran, Alisha ikut bersama kakek itu dan payung tuanya.
"Memangnya kakek tahu rumahku di mana?" tanya Alisha sambil mengelap air matanya.
"Tentu saja, nak! Kakek ini teman Tn. Morris, ayahmu." jawab sang kakek dgn senyum ramahnya.
Sesampainya di rumah Alisha, Tn. Morris terkejut melihat Alisha pulang dalam keadaan basah kuyup beserta salah satu sahabatnya. " Lho? Tn. Willdow??" sapa sang pengusaha milyuner.
"Ini, putrimu aku temukan di taman dekat sekolahnya. Jadi..."
"Dia tidak naik bus sekolah??"
"Iya, jadi saya mengantarnya kemari, kasihan dia kehujanan, sendirian."
"Ya, maaf mengganggu...terima kasih banyak.." kata Tn. Morris. Kakek itu pun pulang. Alisha duduk di sofa, mengeringkan tubuhnya dgn handuk kecil.
"Apa kau tidak tahu tempat dan waktu?? Kau terlambat pulang ke rumah, hujan-hujanan di taman, tertinggal bus sekolah, sedang apa saja kamu?!! Main?? " tegur Tn. Morris.
"Aku...tidak ma..main!!" Alisha masih menangis.
"Kalau begitu, uang sakumu akan ayah potong!"
"Baik, yah.." jawab Alisha, lesu. Dia naik ke kamar tidurnya untuk mengganti bajunya. Tn. Morris bingung, tdk biasanya anak angkatnya itu terlihat tdk bersemangat. Yang beliau tahu, Alisha adalah anak yg ceria, enerjik. "Sepertinya ada masalah..." pikirnya.
Setelah turun dari lantai dua, Alisha duduk di sofa, di samping kakak asuhnya, Euro, yg sedang asyik main PS. Tn. Morris mulai memberi sapaan hangat, "Alisha, kau tdk latihan piano?" Alisha menggeleng. "Aku tdk tahu lagu apa yg ingin aku nyanyikan.." katanya.
"Sekarang lagu apa yg sedang terlintas di pikiranmu?"
"Lagu tentang ibu,..sepertinya cuma itu?!"
"Kalau begitu, ayo nyanyikan!"
Alisha menggeleng. "Aku sedih, yah! Kalau ingat lagu itu...aku sedih.." matanya berkaca-kaca. Tn. Morris mulai mengerti. Alisha begitu karena ingat bahwa ibunya meninggal saat dia masih bayi. Tn. Morris menemukan Alisha di dekat rumahnya, kemudian mengadopsinya, dan telah diketahui orang tua Alisha telah meninggal dunia.
Namun Tn. Morris mencoba menghibur Alisha, "Ehm..mungkin kau bisa coba menyanyikannya dgn rasa senang...!?"
"Tidak..tidak bisa...Bu Guru juga pernah bilang begitu, tapi aku tidak bisa...., teman-temanku menyanyikan lagu itu bersama-sama sedangkan aku tetap menangis. Sampai waktunya pulang pun aku masih menangis. Aku iri pada teman-temanku, tiap istirahat mereka selalu bersama orang tua mereka...ibu mereka..." Alisha mulai menangis.
"'kan ada Ayah.."
" Iya..aku senang...tapi aku belum pernah merasakan enaknya punya ibu! Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin lihat wajahnya, aku ingin dengar suaranya, aku ingin memeluknya, aku ingin bercerita padanya, aku ingin tahu siapa namanya...Ayah.."
"Ibu gurumu juga baik, kan?"
"Tapi..mereka tdk bisa menggantikan ibuku..tidak bisa...!" Alisha terus menangis keras.
Tn. Morris terpaku, dan dia sudah menduga Alisha pasti akan punya keinginan untuk bertemu ibu kandungnya. Beliau tahu, anak seperti Alisha tetap membutuhkan kasih sayang seorang ibu, sekuat dan seriang apapun dia. Sementara sampai saat ini Alisha kecil hanya diasuh oleh Tn. Morris dan babysitter. Beliau sudah lama bercerai dari istrinya, Madison, beberapa bulan sebelum beliau menemukan dan mengadopsi Alisha. Beliau pun mencari akal untuk menghibur Alisha.
Tak lama setelah termenung mencari ide, Tn. Morris berusaha menenangkan putrinya. "Sshh...sudah, sudah,,jangan menangis lagi, ya..nanti di sana ibumu juga sedih melihatmu menangis terus..?! Kalau kau memang tidak mau menyanyi atau main piano, bagaimana kalau menggambar?"
"Hah? Menggambar?? Gambar apa? " tanya Alisha, mulai menunjukkan keingintahuannya.
Tn. Morris mulai menghela nafas. "Begini, pertama coba ambil kertas gambar dan krayon, kita akan menggambar di perpustakaan."
"Iya...!"
Tn. Morris mengantar Alisha ke kamarnya. "Ambil peralatannya! Ayah akan menunggu di perpustakaan.." katanya.
"Kita mau gambar apa, Yah?" tanya Alisha sesampainya di perpustakaan.
"Gambar dirimu dgn ibumu!"
"Hah? Dengan ibu?"
"Iya. Bayangkan ibumu ada di sampingmu, di dekatmu, dengan payung atau entahlah...yg penting, gambar suasana seolah-olah ibumu ada..." jelas Tn. Morris ramah. Alisha pun mulai menggoreskan krayonnya pada kertas. Beberapa menit kemudian....
"Sudah jadi, Yah!!" seru Alisha. Tn. Morris melihat-lihat gambar di mana Alisha bergandengan dgn ibunya, dihiasi bunga-bunga dan pelangi.
"Bagus..bagus!! Ehm..kau memberi sayap pada ibumu??" tanya Tn. Morris.
"Iya, dia 'kan..bidadari yg paling baik!!" jawab Alisha dgn wajah berseri. Tn. Morris sedikit tersentuh. " Ya, setidaknya dgn begini, kau bisa 'bertemu' dgn ibumu.." ujarnya.
"Hah?? Bertemu ibu...?" Alisha bingung.
"Sudahlah, nanti kau juga akan tahu. Nah, sekarang apa kau mau main piano?"
"Mau nyanyi apa?"
"Lagu tentang ibu, yg kamu bilang itu.."
"Boleh! Tapi tunggu...gambar ini??"
"Bawa ke ruang keluarga, sekalian main piano. Setelah itu disimpan, jangan sampai hilang."
Sesampainya di ruang keluarga, Alisha siap di depan piano klasiknya. Tn. Morris menyuruhnya menaruh gambar buatannya di atas piano dan menjadikannya bantuan dalam menyanyikan lagu. Alisha memainkan pianonya dgn riang, menyanyi dgn tenang, membayangkan ibunya sedang di dekatnya, menikmati nyanyiannya. Sebuah perasaan hangat mengalun bersama melodi piano. Tn. Morris mengajak Alisha demikian karena beliau yakin, Alisha masih punya kontak batin yg amat kuat dgn ibunya.
Setelah itu, Alisha pergi makan lalu tidur siang. Namun di tengah tidurnya, dia melihat seorang wanita yg memandanginya dengan tatapan penuh kasih sayang. Ketika Alisha membuka matanya, sosok itu terlihat semakin jelas.
" I..ibu..? Apa itu kau? Alisha...sayang ibu..." kemudian Alisha kembali memejamkan mata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar