Minggu, 14 Februari 2010

Lembaran Melodi

Hari Rabu jam 8 malam, Alisha dan anggota keluarga Mildo lainnya menghadiri pertemuan di sebuah museum. Tn. Morris Mildo merupakan salah satu tamu terhormat dalam pertemuan itu. Semua menikmati acara-acaranya.

"Apa ada baju-baju yg keren di sini??" celetuk Kiarra, sepupu sekaligus sahabat dekat Alisha.

"Ada! Gaun-gaun kuno, mau??" jawab Alisha.

"Gak jadi, ah!!" Kiarra terus meminum teh hangatnya.

Sementara itu, Euro sedang memerhatikan pintu yg cukup jauh dari ruang utama. Pintu tua itu sedikit terbuka, membuat Euro semakin penasaran. Seseorang menepuk bahunya ketika dia melangkahkan kakinya. Dia terkejut.

"Eh, kak! Mau kemana??" sahut Alisha.

"Ugh...kamu!! Eh, kakak mau lihat-lihat di ruangan yg itu, tuh?!" jawab Euro sambil menunjuk ke arah pintu tua itu.

"Kakak ini gimana? jangan coba-coba, ah!!"

"Sebentar aja kok?! Hehe...kakak bosan di sini terus.."

"Jangan salahin aku kalau kakak ditangkap satpam!"

"Iya, cerewet! Oh ya...kalau Ayah nyariin aku, bilang aja, lagi ke WC. Tungguin ya...jangan ditinggal!!"

Euro berjalan perlahan, lalu masuk ke ruangan yg berisi alat-alat musik, beberapa bingkai dan lemari-lemari tua.

"Waaw...semuanya serba klasik! Antik, dari tahun berapa aja ya?! Kelihatannya kayak ruang les musik...kalo Alisha pasti suka yg kayak gini..." ujarnya.

Tak lama setelah puas melihat-lihat benda-benda antik di ruangan itu, mata Euro tertuju pada sebuah lemari yg terdiri dari banyak laci. Beberapa dari laci-laci itu tidak terkunci karena sudah rusak.

Euro mencoba membuka salah satu laci, namun laci itu terasa sulit dibuka. "Ukh,...susah banget nih! Huh...dasar lemari kuno...mesti hati-hati..!" Euro tetap berusaha membuka laci itu. Lalu...

BRAAKK!! Laci itu terbuka dgn keras. Isi-isinya pun berjatuhan. Banyak lembaran-lembaran kertas berhamburan. Euro panik.

"Duuh...!! Bisa ketahuan satpam, nih!" serunya. Sambil mengambil lembaran kertas dan menyusunnya kembali, dia memerhatikan isi kertas-kertas itu. "Ini....deretan melodi...ada syairnya juga..pasti tulisan musisi.." pikirnya.

"Sedang apa?" suara lembut yg menyapa dari pintu, membuat Euro tersentak hingga menjatuhkan kertas-kertas yg telah tersusun.

Rupanya di pintu itu, berdiri seorang wanita berambut pirang, kulit putih langsat, mata biru, dan mengenakan gaun sederhana. Euro sama sekali tidak mengenalnya, namun dia mulai mengaguminya.

"Siapa itu?? cantik banget! Nampaknya..anggun, dewasa banget...kalem dan kelihatannya lebih tua dariku...aahh..aku belum pernah lihat cewek kayak gini...dan mukanya...mirip Alisha..nah lho?! " pikirnya dalam hati.

Wanita itu berjalan mendekati Euro dan kembali bertanya, "Aku bilang, sedang apa?"

"Eh..anu...emmm..aku lagi...lihat-lihat aja. Hehe...! Emm...kau sendiri?" Euro gugup.

"Jalan-jalan sebentar." jawabnya singkat.

Euro terdiam, matanya melirik ke atas ke bawah, memalingkan wajahnya, mencari bahan percakapan dengan wanita itu. "Emm..kelihatannya kamu...suka musik??"

"Ya. Sangat suka." jawab wanita itu dgn sedikit senyum.

Euro kembali tersentak mengingat kalau dia harus membereskan kertas-kertas yang berserakan. Dengan cepat ia mengambil lembaran itu satu per satu. Wanita itu terus memperhatikannya. "Itu kertas apa?" tanyanya.

"Entahlah. Cuma tulisan syair-syair lagu dan not-notnya.." jawab Euro.

"Coba lihat!" pinta wanita itu. Euro pun menyerahkan sebagian dari lembaran itu, lalu terus menyusun lembaran yg lain dan memasukkannya ke dalam laci.

Nampaknya wanita itu sangat serius memperhatikan lembaran-lembaran itu, dan bertanya, " Kamu punya adik angkat?"

"Iya. Namanya Krystaline Robynlove Venushara..alias Alisha.." jawab Euro.

Wanita itu memancarkan senyum, menghiasi wajahnya yang mulai berseri. Ada rasa senang dalam benaknya. Dia menyerahkan lembaran yang dipegangnya pada Euro. Euro heran.

"Tolong serahkan kertas-kertas itu pada adikmu..dia membutuhkannya." pinta wanita itu. Kemudian dia berjalan ke luar ruangan, dan tak terlihat lagi.

"Oh, Hei! Siapa namamu?" tanya Euro, namun terlambat. Dia menutup rapat laci yang terbuka itu, dan membawa beberapa kertas. Perasaan aneh menyelubunginya.

"Eh, kakak! Dapat apa aja?" tanya Alisha ketika Euro sampai di ruang utama.
"Kertas-kertas lagu, nih! Kata seorang cewek, kamu butuh ini. " jawab Euro yg kemudian menyerahkan kertas-kertas itu pada Alisha.

"Cewek siapa?" tanya Alisha sambil melihat-lihat kertas-kertas itu.

"Cewek cantik, rambutnya pirang, matanya biru, kulitnya putih, mukanya..mirip-mirip kamu...pokoknya anggun banget. Sayang aku gak sempet tahu namanya.."

"Itu..." Alisha berpikir dan terkejut "Itu 'kan...Mama! Lagu-lagu ini juga ciptaan Mama! Iya! Ini punya Mama! Lihat tulisannya...ciptaan Krystaline Maria Whiteswan...itu Mama!! Itu pasti Mama!!?" seru Alisha girang sekaligus aneh.

"Hah!?? Cewek itu...ibu kamu yang udah meninggal itu? Berarti...aku naksir..hantu..??" Euro merinding.

"Eh, kok kakak bisa ketemu Mama, sih?"

"Udah, gak usah dipikirin, ah! Sekarang kita minta izin dulu sama pemilik museum, boleh nggak kita bawa kertas ini?!"

Setelah bertemu dengan pemilik museum, mereka memohon untuk bisa membawa lembaran melodi itu. "Kami mohon, Pak! Ini milik ibu saya, dan saya butuh ini untuk menyanyi!" pinta Alisha.

Sang pemilik museum sempat menolak dgn alasan lagu-lagu itu adalah milik musisi terkenal. Namun akhirnya beliau berubah pikirannya. "Baiklah, tapi kalian hanya boleh membawa salinannya."

Jam setengah sebelas, Tn. Morris dan yg lainnya pulang. Di tengah perjalanan beliau bertanya, "Bagaimana kau tahu itu punya ibu Alisha, Euro?"

"Ehm...sebelumnya Alisha pernah cerita soal lagu-lagu itu. Dia sangat menginginkannya..karena kasihan, aku cariin deh!" jawab Euro, membual.

"Iya, Yah! Alisha seneng banget! Mama nitip ini ke aku, Mama ingin aku belajar lagi dgn lagu-lagu ini! Kebetulan banget, aku kangen Mama..." Kata Alisha. Sesuatu telah terjadi hingga Alisha mengenal ibu kandungnya yg ternyata adalah seorang maestro. Alisha berjanji akan memanfaatkan lembaran-lembaran melodi tersebut sebaik-baiknya.

"Kamu enak, ya?! Punya ibu yg perhatian...meskipun udah meninggal...cantik lagi..." ujar Euro.

"Lho? Kamu juga semestinya harus bersyukur, masih punya orang tua.." balas Alisha.

"Ya, sih....seandainya ibuku juga perhatian sama aku..." Euro jadi ingat dengan ibunya yg sudah lama bercerai. Tapi tak lama, kejadian yg baru saja terjadi terlintas kembali di pikirannya. Dia masih merasa takut, heran, dan aneh.

"Gimana, kak? Masih mau lihat-lihat di museum?" sahut Alisha menyindir.

"Nggak, ah! Banyak hantunya!!"

"Katanya, hantunya cantik..anggun.."

"Diam kau!"

Mobil pribadi Tn. Morris terus melaju, menyisakan berbagai kenangan yg ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar